Pembatasan emisi karbon yang salah prioritas

19Apr07

Ilustrasi emisi (Sumber: NASA, www.nasa.gov)Banyak kalangan memandang bahwa pengurangan emisi karbon dari sektor energi adalah respon yang paling tepat sebagai wujud partisipasi Indonesia terhadap isu perubahan iklim. Tak kurang para pendukung energi nuklir pun turut memanfaatkan momentum ini untuk memuluskan proyek pembangunan PLTN. Tidak hanya itu, kampanye bahan bakar nabati akhir-akhir ini pun mendapatkan energi dari isu perubahan iklim ini. Tapi benarkah, pengurangan emisi karbon dari sektor energi merupakan solusi yang paling tepat bagi Indonesia?

Berdasarkan laporan yang dipublikasikan oleh PEACE dan disponsori oleh Bank Dunia pada bulan Maret 2007, komposisi sumber emisi karbon di Indonesia adalah seperti ditunjukkan pada grafik dibawah. Dari grafik tersebut terlihat bahwa 85 persen emisi karbon di Indonesia diakibatkan oleh aktifitas pembukaan hutan (deforestation), dan hanya 9 persen yang berasal dari sektor energi. Jika perhitungan dibatasi hanya pada emisi karbon yang dihasilkan manusia (human-produced carbon emission) maka Indonesia menduduki urutan ke 19 dari seluruh negara di dunia, dengan kontribusi hanya 1.3 persen dari total emisi karbon dunia. Ini artinya jika seluruh sumber energi di Indonesia bebas karbon maka tidak akan berperan secara signifikan pada pengurangan emisi karbon dunia.

Sumber emisi karbon Indonesia (Sumber data: PEACE, 2007)

Bahkan jika dihitung perkapita maka emisi karbon di Indonesia hanya menduduki rangking ke 128 dengan emisi karbon sekitar 1,4 ton perkapita pertahun. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang mencapai 19,8 ton perkapita pertahun atau Cina yang besarnya 3,2 ton perkapita pertahun. Bahkan emisi karbon perkapita negara tetangga Malaysia hampir lima kali lipat Indonesia. Dengan kenyataan tersebut sungguh tidak fair untuk memaksakan pembatasan emisi karbon untuk konteks Indonesia. Apalagi jika langkah ini harus dibayar mahal dengan mengorbankan pembangunan ekonomi.

Sebagai gambaran, jika pembatasan emisi karbon dilakukan dengan mengurangi pemakaian batubara sebagai sumber energi listrik dan industri misalnya, maka secara tidak langsung akan berefek pada peningkatan volume ekspor batubara. Dengan cara ini, secara neto, kontribusi Indonesia dalam pengurangan emisi karbon dunia tidak akan begitu efektif.

Berkaca dari kenyataan tersebut, maka jika Indonesia berkomitmen untuk berperan dalam pengurangan emisi karbon, cara yang paling efektif adalah dengan memfokuskan pada pelestarian hutan yang saat ini belum berjalan secara efektif. Dan karena masalah hutan tidak hanya tanggung jawab Indonesia namun juga merupakan kepentingan internasional maka sudah seharusnya negara-negara industri yang selama ini lebih dominan dalam menyumbang emisi karbon turut bertanggungjawab memikirkannya. Bahkan tidak hanya itu, kenyataanya selama ini negara-negara industri turut menikmati hasil hutan Indonesia. Data menunjukkan hampir separuh produk hutan Indonesia diekspor langsung ke negara-negara industri seperti AS, Uni Eropa dan Jepang (lihat gambar di bawah). Ini belum termasuk produk kayu ilegal yang diselundupkan dari Indonesia ke negara-negara Asia lainnya dan kemudian mengalami perubahan label asal negara sebelum diekspor ke negara tujuan yang lain.

Ekspor hasil hutan Indonesia (Sumber: UNEP/GRID-Arendal)

Upaya perlindungan hutan tentu sedikit banyak mengurangi akses pemanfaatan hutan bagi kepentingan ekonomi bangsa. Ini artinya negara-negara industri harus bersedia memberikan kompensasi atas kerugian ekonomi tersebut.

Lebih dari itu, pembatasan emisi karbon sesungguhnya dapat dilakukan tanpa harus dibayar dengan ongkos ekonomi yang tinggi. Hal ini dapat diwujudkan melalui perdagangan emisi karbon dalam kerangka Clean Development Mechanism (CDM). Jika ini berhasil diwujudkan, maka bukan saja Indonesia turut berpartisipasi dalam pengurangan emisi global namun juga memberikan manfaat secara ekonomi bagi bangsa. Perlu dicatat bahwa peran Indonesia dalam CDM saat ini masih kurang progresif, sangat jauh dibawah negara-negara berkembang yang lain seperti Cina, India dan Brazil.

 

 

Situs yang berisi informasi terkait:

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)
United Nations site for the MDG Indicators
United Nations Framework Convention on Climate Change



2 Responses to “Pembatasan emisi karbon yang salah prioritas”

  1. setahu saya, untuk me-register sebuah proyek menjadi proyek CDM itu membutuhkan biaya yang cukup besar (sekitar USD 45.000-175.000, belum termasuk biaya monitoring dan implementasi proyek).

    apakah memang benar bahwa CDM itu membawa manfaat ekonomi bagi bangsa? atau mungkin sekedar tambahan? lagipula, setahu saya CER baru bisa didapat setelah setahun monitoring proyek berjalan (untuk membuktikan apakah benar jumlah karbon yang teremisikan sama dengan yang dihitung). tapi, saya kurang tahu kalau yang di kehutanan. mungkin lebih lama lagi (haruskah menunggu pohon tersebut tumbuh sampai usia tertentu dalam kapabilitasnya untuk menyerap CO2?).

    mohon pencerahannya.

  2. 2 gita

    Sebagai negara berkembang, Indonesia memang akan kesulitan untuk berusaha membatasi emisi karbon. selama ada pembangunan, bukan saja penambahan pembangkit, kegiatan pembangunan infrastruktur, pertanian, dll pasti akan menambah konsentrasi kerbon di atmosfir. Tapi yang harus menjadi perhatian sekarang bahwa isu perubahan iklim telah mendorong negara-negara di dunia, maju maupun berkembang, untuk memilih teknologi energi yang lebih bersih dan efisien. Hal ini sebenarnya sejalan dengan isu penyediaan energi, terutama energi fosil yang cadangannya terbatas.

    btw, CDM memang sudah menjadi salah satu “sweetener” dalam pelaksanaan proyek2 energi bersih. tapi efeknya akan semakin luas apabila CDM benar2 membantu “pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di negara-negara” sesuai dengan tujuannya, yaitu melalui transfer teknologi.

    Jadi bukan masalah batas-membatasinya, tapi marilah kita jadikan “momentum pengurangan emisi karbon” ini untuk mendorong Indonesia menjadi salah satu negara pengguna dan pemilik teknologi energi yang maju, lebih bersih, efisien, dan menjamin ketersediaan energi di masa depan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: