Sisi kelam PLTN di negara berkembang

05Apr07

PLTN (sumber: Departemen Energi AS)Bagi sebagian negara berkembang, teknologi nuklir seolah menjadi hal yang menjanjikan, baik sebagai solusi pemenuhan kebutuhan energi maupun sebagai simbol penguasaan teknologi. Sayangnya, anggapan ini tidak selalu benar. Berikut ini adalah cerita pengalaman beberapa negara berkembang yang susungguhnya dalam membangun PLTN.

Brazil

Brazil memiliki dua reaktor PLTN Angra I dan II. Angra I (berkapasitas 600 MW) selesai dibangun pada tahun 1982 dan mulai beroperasi satu tahun kemudian dengan teknologi yang dibeli dari Westinghouse – Amerika Serikat (sekarang Toshiba), namun pembelian ini tidak termasuk transfer teknologi reaktor yang sensistif. Pembangunannya sendiri membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Dalam pengoperasiannya Brazil justeru menjadi sangat tergantung terhadap Amerika Serikat dalam pengadaan bahan bakar uranium. Disamping itu, PLTN yang menghabiskan biaya hingga 2 milyar dollar ini dinilai oleh para ahli sangat tidak cost effective. Antara tahun 1985 s.d. 1993 PLTN beberapa kali berhenti beroperasi karena masalah teknis dan permasalahan hukum. Hal ini menyebabkan perusahaan negara yang mengelola PLTN tersebut menderita kerugian hingga mencapai 100 juta dollar. Angka kerugian itu hanya mencakup kerugian akibat biaya operasional. Bahkan direncanakan PLTN tersebut akan segera berhenti beroperasi pada tahun 2009 dengan biaya dekomisioning diperkirakan sebesar 200 juta dollar.

Belajar dari kegagalan transfer teknologi pada Angra I, maka pada proyek Angra II (berkapasitas 1.270 MW) Brazil memilih kerjasama dengan Kraftwerk Union AG (KWU) – Jerman, dalam pembangunan reaktor. Namun pembangunan reaktor kedua ini baru selesai tahun 2001, atau membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun, serta menghabiskan biaya hingga 10 milyar dollar., Brazil masih berambisi meneruskan proyek pembangunan nuklirnya dengan mendirikan PLTN yang ketiga, Angra III, pada tahun 1984. Setelah menelan tambahan biaya sebesar 1.8 milyar dollar dari biaya semula, hingga saat ini belum jelas kapan proyek Angra III tersebut akan selesai.

Filipina

Filipina merupakan negara yang memiliki pengalaman paling pahit diantara negara-negara berkembang yang mencoba mengembangkan PLTN. Filipina mulai membangun PLTN pada tahun 1976 dan selesai pada tahun 1984. PLTN dengan kapasitas 621 MW tersebut menelan biaya hingga 2,3 milyar dollar. Namun dalam perkembangannya PLTN tersebut tidak bernah beroperasi. Keputusan ini diambil setelah diketahui bahwa PLTN tersebut teletak tidak jauh dari Gunung Pinatubo. Pada saat PLTN tersebut dibangun, Gunung Pinatubo dinyatakan sebagai gunung yang sudah tidak aktif. Kewajiban pengembalian pinjaman biaya investasi pembangunan PLTN tersebut pada akhirnya menjadi beban hutang yang mencapai 20% dari total beban hutang luar negeri negara tersebut.

Meksiko

Meksiko memulai pembangunan fasilitas nuklir di Laguna Verde pada tahun 1969 dan memakan waktu 30 tahun. Saat ini pemerintah Mexico sedang mempertimbangkan penghentian operasi PLTN Laguna Verde yang selama ini baru memberikan kontribusi listrik sebesar 3,2% dari kebutuhan listrik negara tersebut, namun di sisi lain telah menalan biaya yang setara dengan 6,3% asset Comision Federal de Electricidad (CFE), perusahaan listrik milik negara Mexico.

Pengalaman sejumlah negara tersebut membuktikan bahwa kisah indah tentang negara berkembang yang memanfaatkan PLTN tidak selamanya benar, kalau tidak boleh dikatakan sesungguhnya lebih banyak pengalaman buruk yang jarang terungkap.

Referensi:

Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Country of Nuclear Strategic Concern – Brazil country profile. Maret 2006.

Eugenio Fernández-Vázquez dan Juan Pablo Pardo-Guerra. Latin America Rethinks Nuclear Energy. International Relations Sener (IRC). 12 September 2005.

Karl Wilson. Philippines: Bataan nuclear plant costs $155,000 a day but no power. Energy Bulletin. 30 Juni 2004.

Eugenio Fernández-Vázquez dan Juan Pablo Pardo-Guerra. Latin America Rethinks Nuclear Energy. International Relations Sener (IRC). 12 September 2005.



18 Responses to “Sisi kelam PLTN di negara berkembang”

  1. Pengalaman ketiga negara berkembang tersebut tentu tidak patut dicontoh. Filipina membatalkan operasi PLTN yang baru selesai dibangun karena janji Presiden terpilih Aquino, semata-mata alasan politik. Mexico proyek PLTNnya mengalami naas karena kena dampak Three Mile sland dan Chernobyl, yang berakibat peraturan regulasinya berubah disebabkan faktor keselamatan. Demikian juga Brazil. Tetapi kedua negara ini ternyata memiliki sumber enrgi yang cukup melimpah: Mexico dengan penemuan ladang migasnya yang besar dan Brazil dengan sumber hidronya yang sangat besar.
    Kenapa tidak diacu saja pengalaman Korea Selatan ?

  2. Iya benar kata mas Budi, masih banyak contoh2 negara yang berhasil memanfaatkan energi nuklir. Bahkan sekarang sudah ada PLTN skala mini dengan kapasitas daya yang tidak besar dan bisa dibawa kemana2…

  3. Berikut ini tanggapan saya atas komentar Pak Budi Sudarsono (dipadukan dengan komentar serupa yang ditulis oleh Pak Budi Sudarsono di mailing-list IndoEnergy@yahoogroups.com yang menyebut juga negara-negara lain seperti Taiwan, RRC, dan India sebagai rujukan):

    Pertama, tulisan tersebut memang bukan dimaksudkan untuk meceritakan success story tentang PLTN. Karena kisah-kisah seperti ini bukan barang baru. Hampir setiap negara yang mengembangkan teknologi nuklir selalu mengklaim pencapaian sejumlah kesusksesan, tak terkecuali Iran dan Korea Utara baru-baru ini. Disamping itu tentu tidak begitu mudah untuk menentukan kriteria sukses. Karena itu tulisan tersebut mencoba sedikit mengungkap kisah gelap PLTN, khususnya dari sisi ekonomi, yang selama ini barangkali tidak banyak diketahui masyarakat kita, bahkan barangkali sebagian besar masyarakat dunia. Perkiraan saya masih banyak kisah-kisah kelam lain yang belum terungkap.

    Kedua, sebagian kalangan menunjuk kisah “sukses” Cina dan India dalam pengembangan teknologi nuklir sebagai model bagi negara berkembang. Perlu dicatat bahwa sejarah pengembangan nuklir kedua negara tersebut tidak pernah lepas dari faktor geopolitis di kawasan tersebut. Sejak 1964, Cina telah menjadi negara kelima yang memiliki senjata nuklir. “No-first use” adalah doktrin mereka dalam senjata nuklir, artinya mereka tidak akan menggunakan senjata nuklir sebelum negara lain menyerang dengan menggunakan senjata nuklir. Setali tiga uang dengan China, kisah pengembangan PLTN di India tidak pernah steril daril motivasi untuk mengembangkan senjata nuklir. Konflik dengan Pakistan (yang juga memiliki teknologi senjata nuklir) adalah salah satu alasan utama. Bahkan secara formal tahun 1998 pemerintah India juga medeklarasikan secara resmi doktrin “no-first use” dalam senjata nuklir. Jangan dilupakan juga bahwa India tidak termasuk di dalam negara-negara yang menandatangani kesepakatan non-proliferasi nuklir.

    Berkaca dari kenyataan tersebut masihkah kita menganggap China dan India sebagai model pengembangan nuklir bagi negara berkembang? Model yang akan memunculkan lebih banyak lagi konflik senjata nuklir seperti di kawasan-kawasan tersebut? Jika model ini diterapkan di Indonesia dan negara-negara tetangga kita, dapatkah kita bayangkan bagaimana wajah kawasan Asia Tenggara kelak?

    Korea Selatan adalah salah satu negara yang mendatangani non-proliferasi nuklir. Namun bukan berarti Korea Selatan tidak memiliki sejarah pengembangan senjata nuklir. Sebelum menandatangani perjanjian non-proliferasi nuklir pada tahun 1975, sejak tahun 1970 negara ini pernah mencoba mengembangkan riset senjata nuklir. Sekalipun telah menandatangai perjanjian non-proliferasi, tahun 2004 masih sempat terungkap sejumlah skandal yang mengindikasikan adanya program pengembangan senjata nuklir di sejumlah reaktor penelitian mereka dalam bentuk ektraksi plutonoium dan pengayaan uranium. Sejarah PLTN di Taiwan, mirip dengan Korea Selatan. Seiring dengan pengembangan PLTN, Taiwan juga melakukan riset senjata nuklir sejak tahun 1964. Riset tersebut dihentikan pada tahun 1988 setelah mendapat tekanan dari sekutu terdekatnya, AS. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah perlu kisah-kisah ini dimasukkan sebagai bagian dari “success story” PLTN di negara-negara tersebut?

    Dapat kita bayangkan kelak betapa repotnya masyarakat dunia jika semakin banyak negara-negara di dunia melakukan hal serupa. Jelas masalah nuklir bukan melulu persoalan Iran dan Korea Utara. Ini juga masalah negara-negara maju yang saat ini seolah mendapat privilege untuk memiliki teknologi nuklir, dan juga masalah negara berkembang termasuk Indonesia.

    Saya melihat bahwa “model” yang terbaik bagi kita dalam mengembangkan nuklir adalah Philipina. Alasannya, kita memiliki banyak kesamaan dengan negara tersebut, antara lain: keduanya adalah negara berkembang sesama anggota ASEAN dengan tingkat GDP perkapita yang relatif sama, tinggal di daerah yang dikenal dengan sebutan “Pacific ring of fire“, punya belitan hutang luar negeri yang besar, dengan tingkat safety awareness dan korupsi yang sepadan, memiliki potensi geothermal yang besar sertan sama-sama punya keinginan membangun PLTN di bekas gunung yang konon katanya sudah tidak aktif. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut masihkah kita malu untuk belajar dari (kegagalan dan keberhasilan) Philipina?

    Salam,
    InfoEnergi

  4. 4 weedee

    Saya kok agak kurang setuju dengan komentarnya InFoEnergiya, pengembangan teknologi nuklir di manapun juga (maksudnya di negara berkembang dan negara maju sekalipun atau bahkan negara miskin juga) yang utama dan pertama adalah faktor geopolitik… baru setelah itu ekonomi dan teknologi menjadi faktor berikutnya,
    Contohnya, Brazil, Meksiko dan Philipines, mereka negara berkembang tapi sejak era 80-an sudah bisa mengembangkan nuklir mereka, Kenapa Indonesia tidak bisa? SDM dan SDA Indonesia bisa dikatakan sudah siap,
    Dan lagi, negara maju (maksudnya “Negara Nuklir”) bukan seolah lagi mendapatkan privilege, Pak. Karena privilege itu memang sudah nyata, bahkan dengan adanya traktat non proliferasi (NPT) sekalipun. NPT tidak mengurangi power dari Negara Nuklir, malah cenderung memblok atau mengungkung negara non nuklir untuk menguasai teknologi itu…
    kenapa? itu yang menjadi pertanyaannya sekarang, kenapa Negara Nuklir tidak mau ada negara nuklir baru? Jawaban manisnya biar ada perdamaian di dunia ini, he3x, klo mau damai ya ancurin aja senjata nuklirnya mereka….. kalau keran pengembangan nuklir dunia dibuka tetapi dengan pengawasan ketat, akan terjadilah perimbangan kekuatan di dunia ini…ujung2nya semua negara di dunia bisa2 menjadi negara nuklir…
    Jika tercapai kondisi di dunia bahwa semua negara seimbang dalam persenjataan maka tidak ada negara nuklir yang mendominasi hilanglah kekuatan mereka…balik lagi ke geopolitik lagi kan…
    sebenarnya perimbangan senjata/teknologi nuklir bisa dilalui dengan pengembangan dimana2 sehingga semua negara memiliki senjata nuklir yang berarti tidur kita semakin tidak nyenyak selain waswas diganggu nyamuk juga khawatir dengan serangan negara lain….
    Atau , bisa saja negara nuklir mengurangi atau menghilangkan senjata mereka, sehingga tidak ada lagi senjata nuklir yang ada nuklir untuk damai….nyenyaklah tidur kita, karena obat nyamuk elektrik kita dapat dinyalakan dengan adanya listrik dari PLTN……

    Bukan maksud untuk mendukung atau menolak PLTN di Indonesia, sebaiknya diletakan dalam cara pandang yang seharusnya, adalah hak semua orang untuk berkembang dan hidup… mungkin ucapannya Preseiden Iran Mahmud Ahmadinejad bisa dijadikan renungan:
    ” Kalau teknologi nuklir itu jelek, kenapa negara maju(nuklir) memilikinya
    kalau teknologi nuklir, kenapa kita (secara umum dunia) tidak boleh mengembangkannya?”

  5. Kalimat terakhir dari weedee sangat menyentuh. Lebih jelas lagi, kalau PLTN sangat berbahaya dan banyak merugikan, kenapa lebih dari 400 PLTN dibangun di negara maju, sedangkan kita tidak boleh membangun PLTN ?

  6. Persoalannya bukan boleh atau tidak, tetapi mau atau tidak, butuh apa tidak.
    Mas Metnet, kalau Anda tanya Amerika dan Russia, tren yang ada sekarang mereka justeru mendorong (memaksa?) kita (negara berkembang) untuk menggunakan PLTN. Silakan baca statemen resmi mereka. Jika begitu, siapa sesungguhnya yang diuntungkan?

  7. 7 eko

    wah keliatanya rame nih.
    kalau menurut saya kita perlu membedakan antara negara nuklir dengan negara yang punya PLTN. bukannya kita tidak mau untuk memiliki tehnologi nuklir karena kita sekarang sudah punya tehnologi nuklir yang digunakan untuk iptek. saya sendiri mendorong pengembangan tehnologi ini tapi kalau PLTN saya dengan lantang akan bilang tidak. sebab sampai sekarang tidak ada tehnologi ini yang dijamin keamanannya. kalau bicara masalah ketahanan negara saya rasa kita belum perlu punya senjata nuklir. kalau mau punya bergaining power yang kuat kita majukan saja diplomasi kita, indonesia merdeka bukan hanya karena kekuatan militer. tapi yang paling perberan adalah kekuatan diplomasi. sudah saatnya negara-negara didunia mengikuti jaran para nabi dan gandhi untuk menciptakan perdamaian dimuka bumi.

  8. Sisi kelam di negara berkembang perlu dikaji ulang mengingat kepastian pembangunan PLTN di Vietnam dan Thailand sudah dipastikan. Vietnam bekerja sama dengan Prancis berencana membangun PLTN 4000 MW. Hal yg sama, Thailand juga akan membangun 4000 MW sampai tahun 2020. Majalah Power Engineering Edisi July/August 2007 mereview kondisi di Thailand yg mirip sekali dengan kondisi di Indonesia, yaitu diversifikasi energi.

  9. 9 anonim

    Negara maju mempunyai kepentingan bisnis yang besar dalam industri ini. Apabila kita bisa memenuhi energi tanpa nuklir, kenapa tidak? Saya setuju dengan pernyataan mas eko di atas, saya mendukung pengembangan teknologi nuklir, tapi untuk sementara PLTN, nanti dulu lah.

    Menurut saya kepentingan bisnis negara-negara maju terlalu besar dibalik kampanye mereka. Kita jangan teralalu memandang negara maju, mereka kaya, kita? secara potensi kaya, secara finansial, enggak! Jangan pernah terlalu terhanyut dengan pepatah kuno, guru-guru kita jaman SMA, negara kita itu kaya! Apanya yang kaya? Secara potensi? Potensi ga ngasilin duit, tanpa duit!

    Merryll Lynch, salah satu investment bank terkemuka dunia, dengan aset yang puluhan miliar dollar, kalang kabut ketika kalah spekulasi ketika kasus subprime mortgage beberapa waktu lalu. Kita? Mau kehilangan nilai investasi yang terlalu besar dalam proyek PLTN? Ngeliat angkanya aja, merinding! Kalau sampai gagal? Mau berapa banyak lagi hutang luar negeri negara kita?

    Parahnya lagi ide PLTN kita sempat digembar-gemborkan akan dibangun di gunung muria. Apakah kita ingin mengulangin Pilifina? Biarlah ahli bilang gunung muria udah mati, jangan sampai kita menambah resiko yang enggak-enggak di sini. Negara maju enak tinggal bangun, kalau gunung muria tiba-tiba aktif lagi, mereka tinggal bilang force majeur, sini duit gua!

    Just my 2 cent btw.

  10. nuklir memang dibutuhkan untuk menunjang proses industri di indonesia.asal kita bagaimana memprosesnya dg cermat. jangan menyalahgunakannya, dgn membuat senjata untuk perang or invasi ke negara lain.gunakan sepentingnya.insya allah masyarakat juga akan mengerti klo pemerintah di indonesia bisa memperdayakan nuklir dgn baik.
    klo nuklir mu di canangkan di indonesia sebaiknya supaya tidak menciptakan pemanasan global secara besar2an, pemerintah harus melaksanakan penghijauan di setiap daerah di indonesia.klo masalah di mana tempat pengayaan nuklir sebaiknya negara kita harus pintar memilih karena ini menyangkut kehidupan rakyat, jangan sampe program nuklir tercipta di tengah2 pemukiman.
    pemerintah harus mengerti dan terbuka, bagaimana keinginan rakyat, jangan sampe kita melihat rakyat menangis,,,”tangisan rakyat adalah dosa besar bagi pemimpin”.
    goooo…indonesia.

  11. kita biasanya kebanyakan birokarasi dan diskusi yang tidak bermanfaat alias debat usil. negara lain sudah ke bulan kita masih banyak yang buta huruf, kena wabah, dan kurang gizi karena kebanyakan diskusi. demikian juga dengan PLTN. Negara vietnam dan Thailand sudah mau memiliki baru kita melek… kegagalan adalah merupakan hal yang wajar di dunia ini namun kita harus belajar dari kegagalan pembangunan PLTN negara lain agar kita ngak gagal. Pembangunan PLTN di indonesia adalah masalah diversifikasi energi dan hal ini penting. jadi mari kita duduk dalam satu meja kalau mau diskusi ilmiah atau seminar biar datanya valid.

  12. 12 nanda

    saya heran ya, kalo orang lingkungan selalu melihat sesuatu dengan sisi buruknya dan membesar-besarkanya,
    (maaf, memang tidak semuanya, ini persepsi saya )
    sekarang lihat kondisi negara kita, energi apa sih yang bisa dikembangkan guana memenuhi kebutuhan msyarakat akan energi?
    masyarakat selalu ditakut-takuti oleh bahaya kebocoran lah entah apalah . dan itu menurut saya GAK MASUK AKAL. safety faktor dalam instalasi rekator nuklir sangatlah tinggi maka probabilitas kebocoran dan bahaya lain sebagainya dapat diminimalisir..
    sekarang kembali ke pertanyaan saya diatas energi apa saja kah yang potensial untuk dapat dikembangkan negara kita INDONESIA untuk sekarang dan massa yang akan datang.

    coba kita nalisis kembali..
    PLTA sudah tidak bisa diharapkan lagi, debit air sungai sudah tidak bisa diandalkan malah akhir-akhir ini musim kemarau selalu terjadi lebih panjang.
    PLGU/PLTU yang menggunakan bahan bakar fosil untuk memanaskan boiler, sudah tidak ramah lingkungan, misalnya yang menggunakan bahan bakar batubara…..yang emisi CO2 nya tinggi dan memperparah efek rumah kaca,

    energi apalagi yang mampu menjawab!!!

  13. 13 Valhalla

    Keren topik nya. Jadi pengen ikutan.

    Begini yah teman2. Saya kebetulan punya beberapa teman dari Teknik Fisika Nuklir UGM Yogyakarta jadi terkadang saya tuker pikiran sedikti tentang nuklir.

    Saya melihat energi nuklir dari sisi saya saja yah. Memang benar, Energi ini banyak kelemahan seperti yang Mas InfoEnergi nyatakan, baik melalui posting maupun artikel yang sangat komplit tadi. Sekarang bila saya boleh membandingkan bagaimana bila kita bandingkkan saja dengan energi yang biasa digunakan untuk pembangkit di Indonesia.

    D Indonesia Pembangkit kebanyakan bertenaga Fosil (batu bara, gas, diesel dll). Saya lihat sama saja, efek terburuk yang mereka hasilkan adalah polusi. Bagaimana tidak setiap pembakaran bahan bakar fosil untuk pembangkit dihasilkan CO2 yang selain meningkatkan efek Rumah Kaca (Yang sudah diperparah dengan konsumsi BBM yang sudah out of control di negara ini). Sekarang benar juga bahwa PLTN akan sangat berbahaya bila terjadi Human error ,kebocoran, dll tapi bila hal ini terjadi dengan Pembangkit yang selama ini di pakai, hasilnya sama BERBAHAYA (dengan skala yang lebih kecil tentunya). PLTN juga menghasilkan produk samping yang berbahaya (saya lupa jadi mohon maaf) dan akan berbahaya bila di salah gunakan.

    Kesimpulannya apa?
    1. Baik PLTN maupun Pembangkit yang kita pakai selama ini sama2 berbahaya. Jadi kenapa Pembangkit biasa tidak di fatwa haram oleh PCNU Jepara?
    2. Hasil produk samping juga sama berbahayanya.

    Jadi, bagi saya it’s okay saja dengan PLTN. Mengingat Indonesia butuh listrik dan yang terpenting, Dunia sedang menghadapi ancaman Global Warming. Mengapa tidak seperti ini. Untuk semntara, kita gunakan Energi yang lebih ramah lingkungan (jangan pedulikan hal politis atau apalah) untk sementara sampai kita temukan energi yang lebih aman dari nuklir. Mengapa, dengan berubahnya iklim dunia, maka saya meragukan bila kita semakin menggenjot Pembangkit dengan energi fosil yang selama ini kita nikmati, we do’nt have time even to say hello to our grandchildren, dan kita harus bertanggung jawab atas kerusakan alam yang kita lakukan. Bagaimana nantinya bila ada sumber energi Hidrogen? Apa kita akan mengatakan ‘takut’ bocor? Kita boleh berbangga dengan banyaknya energi fosil yang kita punya. Tapi ingat, mereka akan habis. Sudah saatnya kita maju ke depan untuk mencari energi alternatif yang lain selagi kita memakai energi yang ramah lingkungan. Sehingga kita tidak menyesal di dean anak cucu kita nantinya.

  14. Sejak PLTN yang pertama dioperasikan di Rusia tahun 1954, saat ini sudah dioperasikan 439 PLTN komersial di 30 negara dengan total kapasitas 372 GWe. Jumlah ini menyediakan 16% kebutuhan listrik dunia. Negara dengan jumlah PLTN terbesar adalah USA yang memiliki 104 unit atau sekitar 99 GWe. Sedangkan negara yang prosentasi listrik nuklirnya terbesar adalah Prancis, yaitu sekitar 78% atau sekitar 63 GWe.

    Saat ini sekitar 34 unit PLTN atau sekitar 28 GWe masih dalam masa konstruksi, 81 unit PLTN atau sekitar 89 GWe dalam proses perencanaan atau persiapan pembangunan, dan 223 unit PLTN atau sekitar 200 GWe sedang dalam proses pengusulan. 4 unit PLTN di Indonesia dengan kapasitas 4000 MWe termasuk dalam kategori yang direncanakan.

    Pengembangan energi nuklir yang terus meningkat, disebabkan oleh keekonomian yang kompetitif, teknologi yang aman dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Perkembangan pembangunan PLTN yang paling pesat di dunia justru terjadi di wilayah Asia, seperti terlihat pada tabel berikut:

    PLTN Beroperasi Dibangun Direncanakan Diusulkan
    No. MWe No. MWe No. MWe No. MWe
    China 11 8587 5 4540 26 27640 88 72000
    India 17 3779 6 2976 4 2800 15 11100
    Indonesia 0 0 0 0 0 0 4 4000
    Iran 0 0 1 915 2 1900 3 2850
    Japan 55 47577 2 2285 11 14945 1 1100
    Kazakhstan 0 0 0 0 0 0 1 300
    Korea (North) 0 0 0 0 1 950 0 0
    Korea (South) 20 17533 3 3000 5 6600 0 0
    Pakistan 2 400 1 300 2 600 2 2000
    Taiwan 6 4884 2 2600 2 2600 2 2600
    Thailand 0 0 0 0 0 0 2 2000
    Vietnam 0 0 0 0 0 0 2 2000
    Total 111 82760 20 16616 53 30395 120 99950
    Sumber: IAEA-WNA, August 2007.

    Memperhatikan beberapa fakta tersebut di atas, maka pemanfaatan energi nuklir di Indonesia sebenarnya sudah layak dan perlu dipertimbangkan dengan serius. Jangan terjebak dalam perdebatan yang nantinya akan menyengsarakan rakyat. Seperti biasanya para pemikir di negara ini selalu telat berpikir dan selalu tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain di sekitar kita.

    Saya sendiri tidak anti pada energi tertentu dan kapan harus digunakan. Mulai saat ini kita (khususnya JAWA!! sebagai wilayah importir energi terbesar!!, bahkan jika dibandingkan dengan Jepang atau Korea!!) sudah harus menggunakan energi mix yang terpadu dan optimal. Selama jenis energi tersebut sudah memenuhi aspek kelayakan teknologi, ekonomi, sos-bud dan lingkungan, maka kita tidak boleh mengatakan TIDAK, termasuk energi nuklir.

  15. (Agar tabel di atas enak dibaca)
    PLTN Beroperasi Dibangun Direncanakan Diusulkan
    No./MWe No./MWe No./MWe No./MWe
    China 11 / 8587 5 / 4540 26 / 27640 88 / 72000
    India 17 / 3779 6 / 2976 4 / 2800 15 / 11100
    Indones 0 / 0 0 / 0 0 / 0 4 / 4000
    Iran 0 / 0 1 / 915 2 / 1900 3 / 2850
    Japan 55 / 47577 2 / 2285 11 / 14945 1 / 1100
    Kazakh 0 / 0 0 / 0 0 / 0 1 / 300
    Korea(N)0 / 0 0 / 0 1 / 950 0 / 0
    Korea(S)20 / 17533 3 / 3000 5 / 6600 0 / 0
    Pakist 2 / 400 1 / 300 2 / 600 2 / 2000
    Taiwan 6 / 4884 2 / 2600 2 / 2600 2 / 2600
    Thailan 0 / 0 0 / 0 0 / 0 2 / 2000
    Vietnam 0 / 0 0 / 0 0 / 0 2 / 2000
    Total 111 / 82760 20 / 16616 53 / 30395 120 / 99950
    Sumber: IAEA-WNA, August 2007.

  16. Ternyata hasilnya sama. Sdh dicoba pakai ‘picture paste’ tidak berhasil.
    Maaf.

  17. 17 welly denny

    Saya sagat tidak setuju dengan pembangunan PLTN disamping masih banyak teknolpgi lain yang bisa di manfaatkan. Bukan maslah orang Indonesai SDM-nya rendah, tetapi ada faktor budaya yang tidak lepas dari peroalan sosial bangsa ini. Yang pertanama masalah Disiplin, Moralitas yang masih bermental Korup dan tanggungjawab (contoh kasus LAPINDO) . Itu bahaya yang paling besar. Banyangkan jika kecelakan di Cyrnobil terjadi… Para pengagas paling2 “ngacir” dan pura2 tidak tahu atau “ngeles” dengan berbagai argumen. Terus terang saya lihat sudah jadi kebiasaan di negeri ini begini jadi saya khawatir saja dan saya nyatakan NO untuk PLTN. Saya sangat setuju dengan Infoenergi efek negatif untuk INDONESIA masih sangat BESAR.
    SDM negeri ini bisi saja membuat teknologi secanggih apapun, tapi jangan tanya kalau persoalan PEMELIHARAAN..sangat rendah dan kurang bertanggungjawab (kalau urusan NGELES paling PINTER). Sebetulnya itu yang lebih mengerikan.


  1. 1 Jurnal Muttaqin | Reza Fahlipi: Kegagalan Pembangunan PLTN di Brazil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: